Diam yang pertama.. pada hari natal 2 tahun yang lalu. Saya masih menganggap diri saya sebagai seorang tamu di tempat itu. Tapi terlontar satu perkataan yang tidak biasa saya dengar, yang membuat saya membandingkan keluarganya dengan keluarga saya. Saat itu saya hanya bisa diam.

Diam yang kedua.. pada saat saya tidak bisa menerima ke-”telat mikir”-annya. Rasanya saya pengen bilang.. “Duuuuuuuuh… dipake donk otaknya!!” yang mana gak akan bisa saya lontarkan ke dia. Akhirnya saya pun diam.

Dengan diamnya saya itu, membuat dia berbicara keras (sekali) ke saya. Dan lagi-lagi saya hanya bisa diam. Itu untuk ketiga kalinya saya diam.

 Sudah cukup! cukup lah saya berdiam dengan situasi-situasi itu. Saya harus bicara apa yang saya gak suka.

Saat saya bicara..

Naik darah lah dia…

Akhirnya saya memutuskan untuk diam (lagi!).

 

Leave a Reply